BAHANA/RADAR JOGJA
POTENSI: Pameran bertajuk Potensi Nusantara Expo 2014 yang digelar di Atrium Malioboro Mall, kemarin (31/10), bertujuan untuk promosi serta mengenalkan beragam produk UMKM ke masyarakat luas.Persaingan Bisnis Kreatif Makin Ketat
JOGJA – Memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 men-datang, diprediksi persaingan bisnis akan semakin ketat. Hal ini dapat berimbas kepada pelaku ekonomi kreatif yang ada di berbagai daerah khususnya DIJ.
Plt Kepala Dinas Pariwisata DIJ Didik Purwadi mengungkapkan industri ekonomi kreatifakan ter-kena dampak diberlakukannya MEA 2015. Namun hal tersebut dapat diatasi bila pelaku sektor usaha menganggap MEA bukan sebagai ancaman melainkan peluang.
“Paradigma itu yang kami tekan-kan pada para pelaku. Mereka harus bisa membuat produk yang sesuai dengan aturan mainnya, mulai dari standar mutu dan sertifikasi,” jelas Didik usai membukapameran bertajuk Potensi Nusantara Expo 2014 yang digelar di Atrium Malio-boro Mall, kemarin (31/10).
Hal tersebut juga terjadi di sek-tor jasa. Menurut Didik sektor jasa harus memiliki sertifikasi, sebab konsumen tidak melihat asal muasal produk jasa yang di-pakai. Melainkan standar kelayakan dan layanan yang diterima.
Terkait dengan pameran Potensi Nusantara Expo yang digelar hingga2 November mendatang, Didik mengatakan pameran ber-tujuan memperkenalkan produk-produk UMKM. Selain produk dari DIJ, ada pula produk-produk kerajinan dari Bali, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Jombang, Pasuruan, Sidoarjo dan masih banyak lagi.
“Ini menjadi ajang bagi para pela-ku UMKM di luar DIJ untuk mem-perkenalkan produk-produk me-reka di masyarakat Jogja,” terangnya.Didik memaparkan total pe-serta yang mengikuti Potensi Nu-santara Expo ini ada 37 peserta.
Produknya bermacam-macam, mulai dari kain dan baju batik, tas kulit, aksesori, kosmetik dan ma-sih banyak lagi. Dengan adanya pameran ini, jelasnya, produk-produk UMKM khususnya dari DIJ diharapkan akan lebih dikenal lagi. Terlebih saat ini DIJ sudah diakui sebagai kota batik dunia.
“Artinya, semua pelaku eko-nomi kreatif di DIJ harus menun-jang label tersebut dengan mengembangkan produk-produk UMKM di Jogja yang memang didominasi batik,” terangnya.Di sisi lain, sambungnya, pe-merintah terus menggiatkan slogan kepada masyarakat untuk mem-beli produk dalam negeri.
“Sebab jika bukan masyarakat yang menghargai produk-produk dalam negeri, siapa lagi? Maka konsumen pun jangan sampai meninggalkan produk lokal,” je-lasnya Didik. (bhn/ila/ong)