Frietqi Suryawan/Radar Jogja

KURANG DISIPLIN: Sebanyak 23 siswa SMK1 Kota Magelang terlambat datang ke sekolahnya. Mereka langsung mendapat teguran dari Satpol PP.

MAGELANG – Wali Kota Magelang berharap para guru bisa “menjual” Kota Magelang. Terutama bagi para Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kota Magelang.
Ini disampaikan wali kota saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sekolah yang beralamat di Jalan Cawang.
“Yang dimaksud adalah mengenalkan profil dan potensi kota Magelang pada semua kalangan,” kata Wali Kota Sigit Widyonindito, kemarin (20/10).
Wali kota yang didampingi Wakil Wali Kota Joko Prasetyo menganggap, profesi mereka strategis dan representatif dalam mengangkat potensi dunia pendidikan yang menjadi salah satu andalan sektor jasa di kota sejuta bunga tersebut.
“Kalau mengenalkan Kota Magelang, guru saya anggap punya potensi melakukan itu. Apalagi punya komunitas yang luas. Ini menjadi kesempatan agar guru mampu menjalankan perannya sebagai marketer-nya Kota Magelang,” paparnya.
Menurut Sigit, dengan memiliki komunitas yang mewadahi perkumpulan guru, bisa dimanfaatkan mempromosikan semua potensi Kota Magelang ke dunia luar. Ini untuk mendukung dan menyukseskan program “Ayo ke Magelang Tahun 2015”.
Seperti biasa, setiap sidak ke sekolah, wali kota jadi inspektur upacara bendera di sekolah yang didatangi. Saat memberi pengarahan, ia meminta pada siswa menjauhi kebiasaan yang berdampak buruk pada karakter pendidikan.
“Jauhi narkoba, jangan salah gunakan pemakaian internet. Satu lagi hindari tawuran pelajar. Itu yang membuat karakter pendidikan menjadi rusak,” papar wali kota yang juga alumnus sekolah ini.
Dalam sidak tersebut, mantan Kepala DPU Kota Magelang menemukan dua guru dan dua staf tata usaha terlambat datang. Selain itu, ada 23 siswa telat masuk sekolah. Semuanya langsung dibina Satpol PP.
“Kalau ada yang terlambat, para guru harus saling mengingatkan. Meski yang terlambat guru atau pegawai senior, ga ada salahnya memberi pengertian atau menegurnya. Ini demi kebaikan bersama,” pintanya.(dem/hes/ong)