JOGJA – Rumitnya membuktikan dugaan korupsi dana pembuatan pergola senilai Rp 5,3 miliar, menuntut tim penyidik dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ harus turun lapangan (turlap), untuk melakukan pengece-kan langsung terhadap pergola yang ada di 1.400 titik yang tersebar di wilayah Kota Jogja. “Kami melakukan cek langsung pergola. Karena titiknya sangat banyak, sehingga pengecekan membutuhkan waktu cukup lama,” kata Asisten Pidana Khusus Kejati Azwar, kemarin (17/10).
elain melakukan pengecekan lapangan, pada tahap penyidikan ini tim sudah memanggil dan memeriksa belasan orang sebagai saksi. Mereka adalah para rekanan, pemilik bengkel las, pegawai BLH Pemkot Jogja. Mereka dipanggil karena dianggap mengetahui pengadaan proyek pada 2013 itu. “Kami masih mengumpulkan alat bukti dan mencari apakah ada kerugian negara atau tidak. Sehingga sampai saat ini belum ada tersangka,” tandas Azwar.
Dalam penyelidikan, sejumlah orang sudah dimintai keterangan. Mereka, adalah Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jogja Irfan Susilo, Ketua DPRD Jogja Henry Kuncoroyekti, mantan Ketua Komisi C DPRD Jogja Zuhrif Hudaya, dan mantan anggota komisi C DPRD Jogja Tatang Setiawan.
“Penyidik akan minta bantuan auditor, apakah bangunan pergola sudah sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan atau tidak. Dari penilaian tersebut, akan diketahui apakah ada kerugian negara atau tidak,” jelas Azwar.
Aktivis Jogja Corruption Watch Baharuddin Kamba mengatakan, seharusnya penyidik sudah bisa menetapkan tersangka dalam perkara dugaan korupsi penga-daan pergola. Sebab, penyidik sudah memegang dua alat bukti yang cukup dan mengetahui siapa saja yang harus dimintai pertanggungjawaban. “Ada dugaan, proyek tersebut hasil kong-kalikong antara eksekutif dengan legislatif,” beber Bahar. (mar/jko/ong)