ADIDAYA PERDANA/ RADAR JOGJA

Mereka Sempat Dirawat di Puskesmas dan RS

MUNGKID – Jumlah korban meninggal dunia akibat minuman keras (miras) oplosan bertambah. Secara keseluruhan, jumlah yang meninggal dunia menjadi 12 orang. Para korban merupakan warga di tiga Kecamatan, yakni Salaman, Tempuran, dan Mertoyudan. Data yang berhasil dikumpul-kan, sebelumnya ada tujuh orang yang meninggal dunia. Sementara, lima orang sempat dirawat di Puskemas maupun rumah sakit (RS). Namun, mereka meng hembuskan nafas pada Selasa malam (7/10)
“Hingga siang ini (Rabu, Red), ada 12 orang dilaporkan me-ninggal dunia akibat minuman keras oplosan,” kata Kasatreskrim Polres Magelang AKP Samsu Wirman, kemarin (8/10). Samsu tidak menyebut nama-nama korban yang meninggal dunia tersebut.Dari penelusuran Koran ini, ke-5 orang yang meninggal dunia merupakan warga Kecamatan Tempuran. Ke-limanya adalah Pipit Rudianto, 35; Imam Akhjad Fauzi, 27; Puji Prasetyo, 30; Nur-wakhid, 27, dan Darori, 30. Darori adalah korban yang sempat dirawat di Puskesmas Salaman I. ia meninggal dunia setelah dirujuk di RS di Kota Magelang.
Hingga kemarin (8/10), ke-polisian belum bisa memastikan jenis campuran dalam minuman haram itu. Sejauh ini, petugas telah mengamankan botol plastik bekas air mineral yang diguna-kan korban untuk minum. Ba-rang bukti itu diamankan ke-polisian untuk dilakukan pe-nyelidikan. “Kami masih laku-kan pendalaman lebih lanjut,” tegas Samsu.
Sebelumnya, tujuh nyawa me-layang setelah mengkonsumsi miras oplosan. Mereka me ninggal dunia di beberapa lokasi di tiga kecamatan. Mereka yang me-ninggal dunia minum oplosan dengan kelompok yang berbeda dan waktu yang tidak ber-samaan. Rentang waktu kejadian, pada Sabtu malam (4/10) hingga Selasa (7/10). Sebelum meregang nyawa, semua korban diketahui me-ngalami gejala yang hampir sama. Yakni sakit perut, pan-dangan kabur, mual, muntah, sakit di bagian dada, dan pung-gung terasa pegal.
Nama-nama tujuh korban se-belumnya ada di tiga kecamatan. Di antaranya, Heri Hartanto, 24, warga RT 04/ RW 03 Dusun Gorangan Kidul, Desa Kalisalak, Kecamatan Salaman; Hermawan, warga Dusun Margosari, Desa Krasak, Kecamatan Salaman. Sa-wal alias Ismun, warga RT 03/RW 08 Dusun Tempursari, Desa Tempurejo, Kecamatan Tem-puran; Achrinawan, 24, warga Curug, Desa Sidoagung, Keca-matan Tempuran.Warga Kecamatan Mertoyudan yang menjadi korban adalah Bambang Irwanto, 37, warga Desa Bondowoso; Susanto, warga Desa Glagah II, Desa Banjarnegoro dan Sarjono, 55, warga Glagah I, Desa Banjar-negoro. Sarjono dikenal sebagai bandar miras oplosan. Semua korban meninggal dunia karena membeli oplosan di tempat-nya.
Untuk memastikan penyebab kematian, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jateng membongkar dua makam korban. Yaitu, Darori di Tempuran dan bandar miras oplosan Sarjono di Mertoyudan.Kedua jenazah diotopsi untuk memastikan penyebab kematian.Proses pengambilan jenazah Sarjono dilakukan Selasa (7/10), pukul 23.00 hingga Rabu dini hari (8/10), pukul 01.45 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan. Kemudian, jasad korban dievakuasi menuju ke kamar jenasah Kompleks RSJ Prof Soerojo Kota Magelang.Ketua Tim DVI Polda Jateng Dr Setyo Trisnadi Setyo men-jelaskan, selain memeriksa kondisi tubuh dan fisik korban, pembongkaran makam untuk mengambil bagian organ tubuh berupa lambung dan darah ke-dua korban.
“Ada dua korban yang diperik-sa kondisi jasadnya. Kami mengambil sampel dari be berapa korban berupa organ tubuh lambung dan darah,” ungkap Setyo.Hasil temuan akan dicocokan dengan temuan beberapa barang bukti yang didapatkan petugas di beberapa tempat kejadian perkara (TKP). Hasil otopsi baru bisa dketahui beberapa hari kemudian. (ady/hes/jiong)