JOGJA – Keinginan warga terdampak langsung bandara internasional di Temon yang tergabung dalam Paguyuban Wahana Tri Tunggal (WTT) bertemu Gubernur DIJ Hamengku Buwono X tak akan bertepuk sebelah tangan. Setelah tak berada di Kepatihan Selasa (7/10) lalu, HB X siap untuk menjadwalkan ulang. “Ya boleh, kalau mau ketemu lagi kan nanti buat surat,” tandas HB X, usai rapat paripurna pelantikan pimpinan dewan DPRD DIJ kemarin (8/10).
Raja Keraton ini mengungkapkan, Selasa lalu dirinya tak bisa menemui warga WTT karena harus mengikuti HUT TNI di Surabaya. Di mana HB X menerima brevet dan baret dari Panglima TNI Jenderal Moeldoko bersama gubernur lain di DIJ. Mengenai penolakan WTT terhadap rencana pembangunan bandara di tanah mereka, Desa Glagah, Sindutan, Paliyan, dan Jangkaran Kecamatan Temon, HB X menganggap hal biasa. Terlebih, warga di sana ada juga yang menerima rencana pembangunan bandara itu. “Yang setuju ada, yang menolak ada, itu manusiawi,” kata bapak lima putri ini.
Ia menegaskan, penolakan bukan berarti mengakhiri rencana pembangunan bandara tersebut. Sampai sekarang, pemerintah juga belum memiliki alternatif tanah untuk pembangunan bandara tersebut.
Meski warga yang tergabung WTT beralasan tanah yang mereka pertahankan itu subur. “Ini kan prosesnya baru sosialisasi. Nanti ada tahapan kedua. Karena secara mekanisme memang begitu,” jelas HB X.
Seperti diberitakan, sejak awal Paguyuban WTT menolak rencana pembangunan bandara. Penolakan mereka ungkapkan dengan unjuk rasa selama tahap sosialisasi. Bahkan yang terakhir, sekitar 400 warga dengan membawa hasil bumi, menggeruduk kantor gubernur di Kepatihan. Mereka datang dengan menumpang 11 bus yang disewa secara patungan. (eri/laz/jiong)