Para Seniman Ramaikan HUT ke-258 Kota Jogja

JOGJA – Sejumlah seniman turut menyemarakan HUT 258 Kota Jogja di sepanjang Malioboro, Senin sore (6/10). Para seniman lintas disiplin ini menyajikan keindahan karya seni, mulai tari, seni lukis, musik hingga instalasi. Aksi ini sontak mencuri perhatian pengunjung kawasan ikon Kota Jogja itu.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Parwisata Kota Jogja Eko Suryo, konsep acara ini merakyat. Konsep panggung dibuat menyatu dengan jalanan Malioboro. Tujuannya agar tidak ada jarak antara seniman dan penikmatnya.
“Mengajak semua seniman lintas disiplin ilmu untuk berpartisipasi. Membuktikan bahwa Jogja secara umum merupakan gudangnya seni. Banyak seniman yang lahir di Jogjakarta, dan ini semacam acara kangen kepada Jogja,” kata Eko kemarin.
Pementasan terbagi dalam berbagai titik sepanjang Malioboro, tepatnya depan Gedung Agung. Pantomime Jemek Supardi mengawali dengan karyanya. Memanfaatkan instalasi karya Rifqi Kusuma dalam Jogja 258 Out Door Sculpture, Mimer senior Jogja ini mulai beraksi.
Dalam karyanya kali ini, Jemek bercerita tentang pentingnya ruang publik. Sebagai seniman dirinya merasa bahwa Jogjakarta merupakan kota seni dan budaya. Di sisi lain lahan sebagai ruang berkreasi juga dirasa minim.
“Berharap ada kelanjutan dan tidak hanya sekadar sebuah simbolik saja. Tapi saya senang bisa ikut acara ini, merasakan guyub dengan seniman lainnya. Tentunya juga bisa saling menyapa dan bertukar ide,” katanya.
Didik Nini Thowok hadir dengan kelompoknya LPK Tari Natya Lakshita. Aksi maestro tari Jogjakarta ini mampu mencuri perhatian pengunjung Malioboro. Beberapa tarian yang identik dengan crossgender dibawakan oleh pria pemilik nama asli Didik Hadi Prayitno ini.
Dalam kesempatan ini, Didik juga menggalang sumbangan bersama para penarinya. Untuk pengunjung yang ingin berfoto bersamanya membayar kisaran Rp 1.000 hingga Rp 5.000. Total sumbangan ini nantinya akan diberikan kepada seniman-seniman Jogjakarta yang membutuhkan.
“Tentunya kita juga harus ingat bahwa Jogjakarta itu kuat akan keguyubannya. Terutama antarseniman lintas disiplinnya. Sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk saling peduli terutama kepada para seniman,” katanya.
Aksi para seniman ini semakin lengkap dengan adanya melukis bersama. Khusus untuk kegiatan ini dikemas sebanyak dua kali. Sore kemarin (6/10) melibatkan 150 pelukis dan pagi ini (7/10) akan melibatkan 120 pelukis.
Aksi ini semakin lengkap dengan turut berpartisipasinya beberapa seniman lukis senior. Sebut saja Joko Pekik, Kartika Affandi dan beberapa seniman lainnya. Rencananya, pagi ini (7/10) juga akan ada melukis bersama di kanvas sepanjang 100 meter.
“Hasil karya ini nantinya akan dipamerkan Maret 2015. Karya-karya para seniman ini akan dipajang di seputaran pedestrian kawasan Malioboro,” kata koordinator melukis W.M Hendrix.
Karya instalasi milik Ismanto Gadhung Mlati turut meramaikan ulang tahun Kota Jogja. Bertajuk Bingung karya ini diarak dari pelataran Benteng Vredeburd menuju Titik Nol Kilometer Jogjakarta. Di area ini 50 seniman merayakan ritual khusus dengan dandanan kain dan body painting. (dwi/laz)
Joko Pekik dan Kartika Affandi Ikut Melukis Bersama