Kereta Api Pengangkut Suporter PSS Dilempari di Solo

SLEMAN – Pertemuan antara PSS Sleman v Persis Solo di babak delapan besar Divisi Utama 2014 sangat mungkin terjadi. Itu jika Laskar Sambernyawa-julukan Persis Solo lolos ke delapan besar dengan status runner up Grup K. Nah, jika skenario ini terjadi nampaknya kedua tim harus benar-benar siap menghadapi teror luar biasa dari suporter tuan rumah saat menjalani laga tandang. Sebab, perselisihan antara kelompok su-porter PSS Brigata Curva Sud (BCS) dan Pasoepati, pendukung Persis masih terjadi.
Yang terbaru, BCS kembali menda-pat “serangan” saat melakukan perjalanan pulang usai mendukung kesebelasan kesayangannya ber-laga di markas Persewangi Banyu-wangi dalam laga pamungkas Grup L babak 16 besar.Kamis malam (25/9) sekitar pukul 19.00 Kereta Api (KA) Sri Tandjung yang sedang melintasi wilayah eks karesidenan Sura-karta dilempari orang tidak dike-nal. Salah satu personel BCS, Deden mengatakan aksi pelem-paran ini sudah terjadi saat KA melintas Kabupaten Sragen.
“Tapi di Sragen sampai masuk Stasiun Solo Balapan pelemparan masih kecil-kecilan. Tapi begitu lepas Solo Balapan sampai Sta-siun Purwosari hujan batu tambah deras. Puluhan kaca kereta pun pecah,” jelasnya.Tidak ada anggota BCS yang men-jadi korban. Namun pelemparan tersebut sempat membuat para pe-numpang KA Sri Tandjung panik. Bahkan penumpang yang bukan suporter terkena imbas karena harus menunduk guna melindungi diri.
Direktur PT Putra Sleman Sem-bada (PT PSS) Supardjiono pri-hatin dengan kejadian ini. Namun ia mengaku lega karena tidak ada suporter Super Elang Jawa (Super Elja) yang menjadi korban.Tapi kata Pardji kejadian ini akan membuat pertemuan PSS dengan Persis di babak delapan besar menjadi riskan. Jelas dengan keadaan ini, saling teror pemain tamu yang dilakukan para pen-dukung kedua tim berpotensi terjadi. Efeknya jelas tidak bagus, karena PSS bisa saja kembali ter-kena hukuman denda dari Ko-misi Disiplin (Komdis) PSSI.
“Intinya kami sih siap men-ghadapi tim mana pun. Namun melihat fakta ini memang lebih baik tidak bersama Solo di delapan besar. Sebab risiko terlalu besar,” jelas mantan manajer PSS ini.Manajer Humas Daerah Opera-sional (Daop) VI PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Bambang S Prayitno juga turut memberikan keterangan. Agak berbeda dengan yang diberikan Deden, Bambang mengatakan kejadian pelemparan justeru sangat kentara setelah KA Sri Tandjung lepas dari Stasiun Purwosari menujuk Stasiun Gawok. Bahkan kata Bambang bukan hanya KA Sri Tandjung yang mengangkut rombongan BCS saja yang terkena lemperan. Dua kereta lain yang melintas setelah Sri Tandjung, Logawa dan Pram-banan Ekspress (Prameks) juga turut menjadi sasaran.
“Khusus untuk Sri Tandjung kaca KA ini pecah 26 buah. Saya tidak tahu apakah motif pelem-paran ini berkaitan dengan per-tikaian suporter. Karena itulah kami melakukan penyelidikan lapangan. Apalagi kejadiannya pas dengan kepulangan suporter PSS ke Jogja,” ungkapnya. Daop VI masih menghitung be-rapa kerugian yang diderita. Selain itu, dia berharap agar pihak berwa-jib bisa menindak tegas aksi perusa-kan tersebut. (nes/fid/din/ty)