Pelanggar Ditilang setelah Sebulan Pasca Uji Coba

SLEMAN- Setelah Jalan C Simanjuntak di kawasan Terban, kini Jalan Prof Yohanes di Sagan dibuat satu arah. Uji coba rekayasa arus lalu lintas dimulai hari ini, Kamis (25/9).
Kebijaksanaan hanya berlaku arus ke utara di ruas jalan tersebut, terhitung mulai pukul 08.00. uji coba digelar empat hari hingga Minggu (28/9). “Kami pasang rambu tambahan. Kawasan dijaga petugas gabungan selama uji coba,” ungkap Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi Sleman Sulton Fatoni kemarin (24/9).
Petugas gabungan yang dimaksud dari Dishubkominfo Provinsi DIJ, Pemkab Sleman, dan Ditlantas Polda DIJ. “Sosialisasi bagi pengguna jalan digelar selama uji coba,” lanjutnya.
Setelah masa uji coba awal berakhir, arus lalu lintas di kawasan tersebut ditetapkan berlaku searah secara permanen. Secara berangsur jumlah petugas akan dikurangi.
Dalam rentang sebulan setelah berakhirnya masa uji coba, para pelanggar hanya dikenai peringatan persuasif. Selanjutnya, diberlakukan penegakan hukum (tilang) sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Tilang dinilai dari jenis dan tingkat pelanggaran pengguna jalan.
Arus satu arah di ruas tersebut dimulai dari Simpang Empat Galeria Mall ke utara sampai SPBU Sagan. Pengguna jalan dari arah timur (depan UNY) yang bermaksud ke arah selatan melalui Jalan Prof Yohanes diimbau mengambil jalan memutar melewati Jalan Cik Di Tiro (Bunderan UGM ke selatan). Atau melalui Jalan Affandi, melewati Pasar Demangan, menuju Jalan Solo.
Itu menjadi alternatif bagi pengendara kendaraan yang akan ke kawasan Kridosono atau Stasiun Lempuyangan, dan sekitarnya. “Uji coba ini berdasarkan kesepakatan Forum Kartamantul, Dishubkominfo DIJ, Pemkab Sleman, dan Ditlantas,” ujar Sulton.
Demi terciptanya situasi kondusif dan keamanan lalu lintas, para pengguna jalan diharapkan menjaga tata tertib dan mematuhi rambu-rambu. Baik rambu permanen maupun portabel.
Sulton mengakui, pemberlakuan satu arah di Jalan Prof Yohanes membuat sebagian pengguna jalan tidak nyaman. Sulton optimistis, ketidaknyamanan itu hanya berlangsung sesaat. Sebab, rekayasa lalu lintas tersebut diciptakan demi ketertiban, kenyamanan, dan kelancaran arus lalu lintas dalam jangka panjang.
Saat ini, jalan sejauh sekitar dua kilometer itu sering dilanda kemacetan setiap hari. Juga sering terjadi kecelakaan di jalan itu akibat ruas yang sempit dan dilalui arus kendaraan dua arah.
Agung Nugroho, 22, mahasiswa UGM, mengaku bakal repot dengan rekayasa arus lalu lintas itu. Pemuda asal Jakarta yang kos di kawasan sekitar Stadion Mandala Krida itu agak keberatan harus menempuh jalur lebih jauh saat pulang dari kampus. ” Lebih jauh dan lebih lama sampai kos. Tapi karena sudah jadi kebijakan, apa boleh buat,” tuturnya.
Jika kebijakan tersebut berlaku tetap, Agung berharap penegakan hukum dilakukan secara adil. Petugas tidak asal tilang. “Kalau memang sering melanggar, apalagi disengaja, ya, tilanglah. Tapi kalau benar-benar nggak tahu, ya, maklumlah,” harapnya.(yog/din)