Sumbang 30 Persen Ekonomi Kreatif
SLEMAN – Kontribusi sektor ekonomi kreatif terus menunjukkan pertumbuhan secara signifikan terhadap perekonomian nasional. Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat pada 2013 subsektor desain dan fesyen menyumbang sekitar 20 hingga 30 persen dari ekonomi kreatif.
“Jumlah tersebut tumbuh di atas rata-rata nasional, yaitu sebesar Rp 578 triliun dari 15 subsektor ekonomi kreatif,” terang Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu kepada wartawan usai membuka kegiatan kongres desain Asia Pasific Space Designers Alliance (APSDA) di Royal Ambarrukmo Jogjakarta Hotel, Kamis (18/9).
Menurutnya setiap tahunnya terjadi pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia. Tahun lalu, pertumbuhan di sektor desain sebesar empat persen dan di bidang arsitektur sebesar delapan persen. Sedangkan untuk nilainya Rp 25 triliun desain dan Rp 29,5 triliun arsitektur.
Selain itu kedua subsektor tersebut memberikan sumbangan terhadap lapangan kerja setiap tahunnya mencapai 160 ribu lapangan pekerjaan. Dia berharap dengan berkembangnya subsektor ekonomi kreatif di Indonesia bisa menyerap lapangan pekerjaan yang lebih besar lagi.
“Apalagi sumber daya alam yang ada di Indonesia sangat mendukung pelaku ekonomi kreatif untuk terus berkembang,” jelasnya.
Sementara itu, terkait digelarnya desain kongres APSDA 2014 yang telah dibuka pada kemarin (18/9) hingga hari ini (19/9) oleh Himpunan Desainer Indonesia (HDII), Mari menyatakan dukungannya terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya pertemuan APSDA ke-25 di Indonesia ini merupakan bagian penting dari pelaku pembangunan di bidang ekonomi kreatif.
“APSDA dapat memperkaya dan menguatkan daya saing desainer Indonesia, mengingat subsektor desain memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian,” terangnya.
Chairman APSDA Francis Surjaseputra mengatakan pelaksanaan kongres desain pada APSDA 2014 merupakan perwujudan salah satu fungsi HDII sebagai mitra kerja pemerintah dalam mengembangkan profesi desain interior. Utamanya, mengembangkan generasi baru bidang desain interior dengan menjembatani rentang antara ilmu akademis dan praktik nyata. “Lebih dari 300 peserta dari 16 negara terlibat aktif dalam kongres ini,” jelasnya.
Francis menjelaskan pada kongres kali ini, pihaknya mengajukan konsep mystical design dengan menobatkan Solo dan Jogjakarta menjadi salah satu kota kreatif di Indonesia. Menurutnya Jogjakarta merupakan kota yang kaya akan seni dan budaya. “Sedangkan Solo ditekankan pada kreatif desain,” jelasnya. (bhn/ila)