SLEMAN– Sejak Sabtu (23/8), tim dari Dewan Kerajinan Dunia atau World Craft Council (WCC) untuk Asia Pasifik dipimpin Ketua WCC untuk kawasan Asia Pasifik Ghada Hijjawi Quddumi melakukan kunjungan ke Jogjakarta.Tujuannya untuk penilaian terhadap usulan Jogjakarta sebagai pusat kerajinan batik dunia atau Craft City for Batik. Menurut Ghada Hijjawi Quddumi, pihaknya berkomitmen untuk ikut memromsikan batik. “Kami akan melakukan workshop-workshop untuk para seniman di negara-negara Asia, Timur Tengah. Khususnya teknik pembuatan batik menggunakan pewarnaan alam,”kata dia kemarin (24/8).
Menurut Ketua Dewan Pakar Yayasan Batik Indonesia Rahardi Ramelan, usulan untuk mengajukan Jogjakarta sebagai kota pusat kerajinan batik dunia ini perlu mendapatkan apresiasi. “Karena itulah kami sangat mendukungnya,” kata Rahadi.Keputusan untuk penetapan Jogjakarta layak mendapatkan predikat sebagai Craft City for Batik dari dewan kerajinan dunia ini akan diumumkan bulan Oktober mendatang.Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIJ GKR Hemas menjelaskan, ada beberapa pertimbangan mengapa Jogjakarta layak mendapatkan predikat itu. Pertimbangannya antara lain, sejarah batik di Indonesia khususnya Jogjakarta. Pelestarian lingkungan dengan mengembangkan batik warna alami sudah banyak dilakukan.Selain itu kerajinan batik telah menumbuhkan lingkungan industri rakyat . seperti di Tamansari, Imogiri, Kulonprogo, Gunungkidul dan Sleman. “Batik juga dikembangkan secara ilmiah oleh balai besar kerajinan dan batik, perguruan tinggi maupun sekolah,” jelasnya.
Nah, kemarin dewan kerajinan dunia meninjau sentra kerajinan batik Giriloyo, Imogiri. Itu bagian dari proses penilaian ajang kontestasi tahunan yang diselenggarakan dewan kerajinan dunia yang bermarkas di Beijing, China ini. Dalam kontestasi ini Jogja berhasil masuk dalam nominasi enam besar. Jogja mewakili Indonesia. Ada sembilan anggota tim dewan kerajinan dunia yang ikut hadir ke sentra kerajinan batik Giriloyo. Mereka didampingi jajaran pengurus dewan kerajinan nasional (Dekranas) DIJ, dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul.Di lokasi ini mereka ingin melihat langsung proses pembuatan batik dengan berbagai tahapannya. Kemudian, hasil penilaian ini akan dijadikan referensi untuk menentukan kota mana yang pantas menyabet predikat kota dunia dengan ikon kerajinan khasnya. Direktur Eksekutif Dekranas DIJ Roni Guritno mengatakan, Dekranas DIJ beberapa waktu lalu mengusulkan kepada dewan kerajinan dunia. Agar Jogja dijadikan sebagai kota batik dunia. “Kita bersaing dengan enam negara di Asia Pasifik,” terang Roni.
Pada ajang ini Dekranas DIJ mengusulkan batik sebagai ikon kerajinan DIJ. Ini karena sejumlah pertimbangan. Di antaranya batik sebagai salah satu warisan dunia yang telah diakui Unesco. Kemudian pusat kerajinan batik di Indonesia terpusat di Jogja. “Jogja lengkap. Baik dari sisi sejarah, seni, hingga perajin batik yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.Ada banyak keuntungan yang diraih jika Jogja keluar sebagai pemenang. Khususnya bidang ekonomi. Sebab, dewan kerajinan dunia tentunya akan mempublish kota yang keluar sebagai pemenang ke berbagai penjuru dunia. Sehingga masyarakat dunia akan semakin mengenal Jogja dengan batik khasnya. “Dewan ini memang fokus ke kerajinan khas. Nah, batik yang kita maksud adalah batik tulis,” ungkapnya.Kepala Disperindagkop Bantul Sulistyanta menyebutkan, hampir 70 persen perajin batik di Jogja berasal dari kabupaten Bantul. Daerah Giriloyo, Imogiri salah satunya. “Kerajinan tangan di Imogiri didominasi batik. Hampir 50 persen kerajinan tangan di sini adalah batik,” urainya.Sulis berharap Jogja mampu menyabet predikat prestisius dari dewan kerajinan dunia ini. Agar kerajinan tangan di Jogja, khususnya batik dapat lebih mendunia. “Ini dampaknya luar biasa, terutama bagi para pembatik,”tambahnya.(sky/zam/din)