RATUSAN kaos tertumpuk di ruang tamu rumah Vijhe Calvarera. Sembari menata tumpukan kaos untuk dimasukkan ke keranjang, Vijhe sapaanya mengungkapkan awal perjuangan memproduksi suvenir kaos khas Borobudur tersebut. Vijhe merupakan salah satu Tim Owner Brand Kaos asli Borobudur Kabupaten Magelang”The Bodho”. Selain Vijhe, Tim Owner The Bodho ada beberapa nama. Seperti Umar Chusaeni dan Triyudho Purwoko. Ketiganya memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda. Munculnya kaos dengan merek The Bodho sejak awal memang bermaksud membuat oleh-oleh berciri khas Borobudur. Candi Borobudur merupakan salah satu tujuan wisata dunia dan menjadi magnet penarik wisatawan dari berbagai negara. “Kami membuat kaos Bodho, selain menciptakan sesuatu yang unik dan lucu serta ciri khas Borobudur. Namun juga wujud keprihatinan atas status Borobudur. Selama ini, banyak ditemukan tulisan candi Borobudur, tapi dengan kaos yang juga bertuliskan Jogjakarta. Padahal, sebenarnya candi Borobudur itu kan di Kabupaten Magelang,” ungkap Vijhe kemarin (3/8).
Menurut Vijhe, selama ini kaos yang dijual-belikan di kawasan wisata hanya bercorak tempat wisata. Karena itu, tim ini menemukan ide untuk mendesain gambar kaos dengan berbagai pillihan. Seperti buah, hewan, tokoh dunia, otomotif, dan lainnya. “Yang menarik, keterangan atau tulisan gambar tersebut dibuat berbeda dengan yang seharusnya. Ini bertujuan agar orang yang membaca bisa berpikir,” papar Vijhe.Contohya, desain kaos “The Bodho” bergambar senjata tradisional keris. Namun demikian, tulisan di bawahnya bertuliskan AK 49. Ada juga kaos bergambar tokoh tinju dunia, namun tulisan di bawahnya nama pemain sepakbola ternama.Menurutnya, alasan itu sesuai ide utama yang tertera pada kaos. Yakni semakin pintar orang, semakin banyak yang tidak diketahui. Semakin bodho orang, semakin merasa mengetahui banyak hal.
Ia menyebut, kualitas kaos The Bodho bisa dibandingkan dengan kaos wisata kebanyakan. Termasuk harganya yang bisa dibilang relatif terjangkau. “Kualitas kaos bagus, harga terjangkau, dan layak dipakai baik bagi wisatawan dalam negeri maupun mancanegara,” paparnya.Saat ini, kaos The Bodho bisa didapatkan di stan Galeri Unik Seni Borobudur Indonesia (Gusbi) di Kompleks Wisata Candi Borobudur. Ke depan, tim owner akan mendirikan outlet di luar kawasan Borobudur. Sehingga memudahkan pembeli untuk menjangkau dan membeli. “Misi kami, kaos The Bodho menjadi suvenir yang hanya ada dan bisa didapatkan di Borobudur,” tegasnya.
Owner lainya Umar Chusaini menambahkan, sebuah kaos tidak melulu dipakai sebagai penghias badan. Kaos juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana menasehati agar seseorang bisa lebih bijak berpikir. Menurutnya, itulah setidaknya, awal mula ide munculnya brand kaos asli Borobudur Kabupaten Magelang “The Bodho”.Meski simple, keberadaan kaos The Bodho diharapkan menarik perhatian dan menjadi sesuatu yang benar-benar ciri khas Borobudur serta tidak ada di tempat lain. “Harapan kami, ke depan wisatawan menjadi serasa belum ke Borobudur, kalau tidak beli kaos The Bodho,” harap Umar.(*/hes)