LEBARAN menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua umat muslim setiap tahunnya. Termasuk bagi Wurandika Chloridianti yang merayakan momen ini secara spesial. Persiapan khusus menyambut hari raya Idul Fitri 1435 H dilakukan bersama keluarganya.Bagi perempuan yang akrab dipanggil Wika ini, lebaran merupakan hari istimewa. Salah satunya dengan membuat baju keluarga. Tradisi ini sudah berlangsung selama dua tahun. Nah tahun ini tema batik diusung oleh keluarga Wika. “Tentunya agar tampil kompak dengan baju keluarga. Tahun ini memilih batik Pekalongan untuk tema baju keluarga. Desainnya dibuat sendiri agar lebih pas dan sesuai dengan keinginan keluarga,” kata Diajeng Sleman 2012 ini.
Dipilihnya tema batik Pekalongan karena motifnya yang unik dan bagus. Selain itu dengan menggunakan motif ini juga sebagai bentuk kepedulian terhadap kekayaan lokal. Semangat inilah yang sudah mengakar kuat di keluarga Wika. Alasan lain menggunakan baju keluarga adalah untuk berfoto bersama. Perempuan kelahiran Jogjakarta, 9 November 1992 ini mengungkapkan dirinya dan keluarga sangat jarang foto bersama. Momen seperti lebaran, menurutnya adalah saat yang pas karena semua bisa berkumpul. Selain menyiapkan baju keluarga, tentunya Wika juga memiliki tradisi lebaran lainnya. Salah satunya yang tidak pernah terlewatkan adalah menu lebaran. Setiap lebaran tiba, Wika dan keluarga bersama-sama memasak.
Bedanya tradisi memasak ini selalu menghadirkan menu berbeda. Menu paling wajib dari masakan ini adalah petis bumbu dan acar. Dua menu ini merupakan bintang utama dari menu yang disajikan saat lebaran tiba. “Opor ayam tentunya nggak lengkap tanpa petis bumbu dan acar. Jadi untuk mengolah menu wajib ini bahan bakunya adalah petis. Harus ada setiap tahunnya, ditambahi bumbu olahan keluarga,” kata perempuan yang juga menjabat finalis Diajeng DIJ 2012 ini.Tidak lengkap rasanya jika bicara lebaran tanpa angpao lebaran. Meski telah berumur dewasa, Wika masih kerap mendapatkan angpao dari keluarga besarnya. Baginya momen ini adalah hal menyenangkan sejak dirinya masih kecil.
Wika mengingat masa kecilnya, dimana selalu mendapatkan angpao. Angpao ini lalu dikumpulkan untuk membeli es krim. Bedanya saat ini angpao yang didapatkannya ditabung untuk keperluannya sehari-hari.Namun dari semua momen ini, lebaran adalah waktu yang sangat spesial. Berkumpul dengan keluarga dan saling memaafkan. Bahkan keluarganya yang berada di luar Jogjakarta selalu datang ke kediaman Wika yang berada di Gentan Jalan Kaliurang Km 10, Sleman ini. “Semua keluarga berkumpul dan merayakan hari raya Idul Fitri. Banyak cerita dan momen yang tidak bisa dilewatkan saat hari raya ini tiba,” kata Wika. (dwi/ila)