JOGJA – Manajemen PSIM Jogja sepertinya mulai kehilangan akal untuk membayar gaji Topas Pamungkas dkk. Ya, kemarin (10/7) sudah genap dua bulan manajemen Laskar Mataram tidak memberi hak pokok bagi para penggawa Laskar Mataram. Hal ini tentunya ironis bila melihat prestasi PSIM yang mampu memuncaki klasemen Grup 5 sebelum libur Piala Dunia 2014. Ya, selain bulan Juli ini, PSIM juga tidak memberikan gaji pada bulan Juni.
Direktur Operasional PT Putra Insan Mandiri (PT PIM) Jarot Sri Kastawa mengakui jika pihaknya belum bisa membayarkan kewajiban itu. Ya, sampai saat ini belum ada solusi yang dapat memecahkan prahara gaji tersebut. “Harus saya akui kalau kami manajemen PSIM belum bisa menemukan solusi jitu untuk memecahkan masalah telat gaji ini. Ya wajar saja kas yang kami miliki memang tidak cukup,” sergahnya.
Celakanya, hingga kemarin Ketua Umum (Ketum) PSIM juga belum mengumpulkan manajemen demi membahas beberapa prahara yang ada di PSIM. Sejatinya selain gaji PSIM juga dipastikan harus mengungsi dari Mandala Krida saat menjalani dua pertandingan kandang sisa, kontra PSS Sleman dan Persinga Ngawi.
Untuk hal ini pun Jarot mengaku PSIM belum dapat menentukan langkah. Wacana paling masuk akal ialah PSIM mmakai Stadion Sasana Krida Akademi Angkatan udara (AAU) sebagai home base sementara. “Selain gaji kami juga masih memiliki masalah soal venue kandang di penghujung babak penyisihan. Saya belum tahu dimana kami bakal menjamu PSS. Untuk menghadapi Persinga Ngawi mudah-mudahan kami bisa menjalani di stadion yang dapat mendatangkan penonton,” jelasnya.
Di bagian lain kemarin PSIM menjalani laga kedua mereka dalam rangkaian roadshow Ramadan kontra Godean Selection di Lapangan Hibrida, Argomulyo, Godean. Hasilnya PSIM berhasil menang dengan skor cukup telak, 3-0. Adapun gol-gol PSIM dicetak gelandang M Juni Riyadi lewat titik putih dan dua gol Tri Handoko. Dalam laga ini sendiri PSIM sempat mengalami kesulitan pada awal pertandingan. Pelatih PSIM Seto Nurdiyantara menyatakan hal mitu disebabkan keadaan lapangan yang buruk. Seto mengakui PSIM memang membutuhkan adaptasi saat bermain di lapangan dengan kondisi rumput super buruk. “Pada awal pertandingan kami kesulitan karena lapangan jelek. Anak-anak jadi harus adaptasi. Ya fase ini memag harus mereka lalui karena nanti kami akan main di kandang PSBI Blitar Stadion Aryo Srengat yang kondisi lapangannya super buruk,” sergahnya.
Selain kondisi lapangan buruk penerapan formasi 3-4-1-2 di babak pertama memang menjadi salah satu kendala. Menurut Seto anak asuhnya memang harus menyesuaikan lagi dengan pola alternative pendamping 4-2-3-1 tersebut. “Anak-anak jelas maish harus adaptasi lagi dengan pola baru. Terlihat mereka belum dapat menerapkan 3-4-1-2 secara sempurna,” paparnya. (nes/din)