Tak ada provokasi terkait proses Pilpres 2014 di Jogjakarta. Tak ada tingkat kerawanan dalam level yang mencemaskan.
Hal itu ditegaskan petinggi TNI di Jogjakarta. “Momentum Pilpres 2014 di wilayah DIJ, tidak ada tingkat kerawanan menonjol,” tegas Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Sabrar Fadhilah di sela persiapan pengamanan Pilpres 2014 oleh seluruh jajaran TNI bersama KPU DIJ dan Bawaslu DIJ di Makorem 072/Pamungkas Jogjakarta kemarin (6/7). TNI, sebagai salah satu institusi negara yang mendukung Polri dalam pilpres, juga menyatakan siap mengamankan pesta demokrasi ini. Danrem Sabrar mengatakan, platform kesiapan pasukan TNI di Jogjakarta lebih pada memberikan rasa aman bagi masyarakat yang akan memberikan hak suaranya dalam pilpres.
TNI bersama kepolisian juga telah memetakan daerah yang potensial terjadi benturan. Meski, diyakini tidak pada potensi benturan dengan skala tinggi. “Masyarakat yang akan memberikan hak suaranya tak perlu takut. Melihat situasi jelang pemilu, kita tingkatkan kesiapan. Salah satunya patroli,” jelas Danrem. TNI pun bersikap hati-hati menyikapi potensi adanya provokator yang berniat membenturkan kedua pendukung pasangan capres. Danrem menegaskan, sejauh ini tak ada laporan yang mengarah pada hal tersebut. Danrem memahami bahwa Jogjakarta memiliki histori kelompok fanatisme terhadap partai politik (parpol). Dalam pilpres kali ini, fanatisme parpol tidak berada dalam porsi yang sama. “Jadi, sangat mungkin ada potensi kerawanan terkait keamanan. Saya tegaskan, sejauh ini tidak sampai pada tingkat provokasi yang mendalam yang difokuskan di Jogja. Tidak ada,” imbuhnya.
Konflik yang muncul dalam pusaran momentum pilpres itu menjadi semacam “atribut” dalam proses pilpres. Termasuk aksi vandalisme terhadap salah satu kantor biro televisi nasional di Jogjakarta. Terkait kejadian itu, Danrem menyatakan sejak awal tidak menduga bakal terjadi protes dan aksi terhadap kantor media. Namun, dia menegaskan, kepolisian sedang menangani kasus ini sesuai prosedur hukum yang berlaku. “Prinsipnya, kita terus optimalkan peran inteljen,” tegasnya. Ketua Bawaslu DIJ Muhammad Najib tak menampik anggapan jika pilpres kali ini memiliki nuansa berbeda dengan pilpres sebelumnya. Menurutnya, perbedaan kelompok pendukung pasangan capres-cawapres dalam pilpres kali ini lebih menonjol.
Perbedaan pilihan berpolitik pun kian kentara. Najib pun mengajak seluruh pihak meningkatkan kesiapan pasca-pilpres.
“Puncaknya justru pasca-pilpres,” ujarnya. Menurutnya, rentetan peristiwa yang terjadi sepanjang proses pilpres bisa menjadi bahan pembenahan aparat penegak hukum. Sebab, menurutnya, antisipasi dini lebih diutamakan daripada menunggu terjadinya gesekan yang melibatkan antarkelompok. Ketua KPU DIJ Hamdan Kurniawan mengapresiasi pertemuan demi persiapan pengamanan Pilpres 2014 yang melibatkan TNI, KPU DIJ, dan Bawaslu DIJ. “Kerja sama yang apik, salah satunya berdampak positif, pada tugas TNI/Polri dalam mengamankan Pilpres 2014 ini,” jelasnya. (fid/amd)