SLEMAN – Gaya kepemimpinan yang suka blusukan justru berdampak baik. Dia tidak hanya duduk manis di belakang meja sambil menunggu laporan anak buah. Pemimpin perlu terjun langsung ke lapangan agar melihat, mendengar, merasakan, dan memahami apa keinginan rakyat.
Pesan ini ditegaskan anggota tim kampanye Nasional Jokowi-JK, Ferry Mursyidan Baldan saat pembekalan kepada 600-an relawan Jokowi-JK yang digagas Jaringan Silaturahim Rakyat Jogja untuk Sejahtera (Jalasutra), kemarin (19/6).
Ferry menegaskan, seluruh relawan harus optimistis bisa mengamankan suara pada Pilpres 9 Juli nanti. Sedangkan terhadap kampanye hitam, relawan harus menjadi ujung tombak meluruskannya. “Black campaign jelas sudah menjatuhkan Jokowi-JK. Di sinilah peran relawan agar berperan sebagai penyambung kebenaran,” kata Ferry.
Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Partai Nasdem itu menambahkan, pembekalan relawan ini untuk lebih memperjelas status Jokowi sebagai calon pemimpin bangsa yang berasal dari rakyat. Apalagi track record kemepimpinan mulai menjabat sebagai Wali Kota Solo sampai menduduki Gubernur DKI Jakarta, itu adalah bukti nyata sepak terjang Jokowi.
“Memilih pemimpin ya harus jelas rekam jejaknya. Soal nomor urut memang nomor dua, tetapi biarlah yang nomor satu diberikan untuk orang yang belum pernah memiliki pengalaman memimpin pemerintahan,” ujarnya. Ketua DPW Nasdem DIJ Subardi menegaskan, koalisi yang dibentuk untuk mendukung pasangan Jokowi-JK bukanlah koalisi transaksional. Apalagi koalisi bagi-bagi duit. Dengan jumlah partai yang tidak sebanyak koalisi pasangan lain, Subardi optimistis perolehan suara Jokowi-JK khususnya di Sleman bisa sesuai harapan.
“Kita bukan koalisi tawar menawar. Arahnya jelas, membangun bangsa dengan pemimpin yang sederhana dan merakyat,” ujarnya. Pembekalan ini diikuti simpatisan partai koalisi pendukung Jokowi-JK se Kabupaten Sleman. Mereka juga dibekali spanduk untuk dipasang di beberapa titik sesuai wilayahnya masing-masing. (fid/din)