JOGJA – Menurunnya pemahaman akan nilai-nilai keluhuran Pancasila membuat prihatin sejumlah orang. Demi meningkatkan pemahaman soal keluhuran Pancasila, sejumlah lembaga memproduksi film berjudul Suparamawira Gardala.
Lembaga tersebut adalah Lembaga Indonesia Adil Sejahtera Aman (ASA), Rumah Garuda, dan Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI Polri (FKPPI).
Ketua Dewan Pembina ASA Jendral (Purn) Djoko Santoso mengungkapkan, film ini sangat penting. Melalui tokoh Suparamawira Gardala, beberapa organisasi tersebut ingin mengenalkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Langkah ini sebagai counter akan lunturnya pemahaman nilai kesilaan dalam Pancasila.
“Pancasila itu merupakan dasar yang diyakini sebagai pemersatu dan mempererat perbedaan Indonesia. Pancasila tidak hanya dihafalkan, namun benar-benar diamalkan nilai-nilainya. Film ini sebagai wujud untuk meneruskan cita-cita Pancasila pada generasi penerus Indonesia,” kata Djoko yang juga sebagai executive producer, saat pemutaran perdana di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, kemarin (7/4).
Mantan Panglima TNI ini menjelaskan, Pancasila penting sebagai karakter bangsa. Dipilihnya film superhero untuk mengamalkan nilai Pancasila memiliki cerita tersendiri. Superhero, ungkap Djoko, dekat dengan anak-anak. Sehingga lebih pas dan mudah untuk dekat dengan anak-anak.
Selain itu, anak-anak di Indonesia kehilangan sosok superhero asli Indonesia. Sosok superhero adalah yang memiliki nilai kuat dan mencerminkan kearifan lokal.
Pilihan pada Suparamawira Gardala, menurut Djoko diharapkan mampu menjadi sosok bayangan anak Indonesia akan sosok pahlawan.
“Kita sering jumpai pahlawan-pahlwan super di televisi, tetapi tidak ada yang asli Indonesia. Adanya tokoh Suparamawira Gardala diharapkan tidak hanya imajinasi, juga panutan anak-anak. Tidak hanya melalui aksi-aksi heroik, tetapi nilai-nilainya,” tegasnya.
Sutradara film Nanang Rakhmat Hidayat dari Rumah Garuda mengungkapkan, produksi film ini memakan waktu yang panjang. Produksi film dengan genre action superhero dilakukan bersama mahasiswa Jurusan Televisi dan Jurusan Teater ISI Jogjakarta.
Pria yang terkenal dengan julukan Nanang Garuda sengaja membuat segmentasi penonton, usia 5 – 12 tahun. Dipilihnya segmen ini, karena merupakan usia produktif dalam penanaman nilai-nilai termasuk Pancasila.
“Film ini disengaja memasukan unsur kearifan lokal yang kental. Selain sosok burung Garuda sebagai tokoh utama, Ada juga Batara Angkara yang terinspirasi tokoh wayang Dasamuka. Penggunaan unsur dan bahasa daerah juga kental dalam film ini,” kata Nanang.
Unsur daerah yang diusung tidak hanya Jawa. Nanang menambah unsur kedaerahan lain, mulai Aceh hingga Papua. Ini dilakukan agar film yang diproduksinya benar-benar mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
Soal pendistribusian film, Nanang dan timnya menyiapkan langkah khusus. Langkah awal adalah mencoba memasukan film ini ke dalam program televisi di Indonesia. Selain itu, penggunaan fasilitas dunia maya seperti kanal video youtube juga dilakukan.
“Proses shooting di Jogjakarta sudah cukup. Semua budaya Indonesia ada di Jogjakarta. Rencananya, juga dibawa ke Jakarta pada Juni untuk melihat respons masyarakat. Episode pertama akan disusul episode selanjutnya,” kata Nanang.(dwi/hes)