PROSES perjalanan panjang selama tujuh tahun berhasil dilalui oleh Defri Kus Triyanto dan Earlyninda Ayu Listyanti. Kenal sejak masih duduk di bangku SMA, keduanya semakin mengetahui lebih jauh satu dengan yang lain begitu masuk kuliah. Intensitas pertemuan di awal-awal kuliah dan chemistry, membuat keduanya sepakat untuk pacaran.Saling percaya dan komunikasi, menjadi kunci pasangan ini awet, bahkan cukup adem ayem. Hanya saja kisah long distance relationship (LDR) mereka lakoni. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.Tanggal 13 Februari 2014 menjadi hari baik bagi keduanya untuk mengucap janji suci pernikahan. Bertempat di kota Cilacap, kedua sejoli ini tidak ingin terpisahkan lagi. Meskipun mereka harus masih bersabar diri, karena tuntutan pekerjaan membuat kedua harus kembali dibedakan jarak. “Setelah acara resepsi Ninda masih punya cuti, jadi ikut saya dulu ke Jakarta. Setelah itu baru kembali bertugas ke Pontianak,” ujar Defri seusai acara resepsi di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo Jogjakarta, Sabtu (15/2).Tidak sekali ini saja Defri harus legowo ditinggal Ninda. Sewaktu masih kuliah, dirinya juga kerap ke luar Jogja untuk kuliah praktik. Begitu pula ketika Ninda yang lulus terlebih dahulu mendapat pekerjaan di Jakarta. Selang setahun, begitu diri Defri lulus langsung menyusul Nindia ke Jakarta. Baru merasakan di kota yang sama sejenak, Defri yang bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta harus bersabar diri lagi menerima kenyataan Nindia kembali meninggalkannya karena ditempatkan di Pontianak.Keseriusan keduanya dibuktikan meskipun terhalang jarak. Seusai lamaran dan tanggal baik pun ditetapkan. Dikarenakan keduanya tinggal di kota berbeda, mereka mempercayakan keluarga untuk mengurus segala sesuatunya. Baik untuk prosesi akad di Cilacap hingga resepsi di Jogja. Jogja sendiri dipilih karena kemudahan akomodasi dan banyak dari keluarga besar yang tingga di Jogja dan sekitarnya. “Persiapan semua dikerjakan orang tua dan adik yang tinggal di Jogja, kami percaya saja,” ujar Ninda yang saat ini menetap di Pontianak karena ditugaskan di Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kalimantan Barat.Resepsinya sendiri bergaya tradisional dengan dominasi warna hitam dan gold, keluarga mempercayakan Royal Ambarrukmo Jogjakarta untuk momen indah ini. Tim Royal Ambarrukmo Jogjakarta mengorganisasi acara resepsi mulai dari dekorasi, entertainment, konsep acara. Juga pada saat acara semua ditangani oleh tim dari hotel berbintang lima ini. Kerja maksimal membuat acara resepsi yang digelar sejak sore hingga malam ini menjadi kenangan terbaik dan terindah tidak hanya bagi keduanya, tetapi keluarga dan semua undangan. “Sempat khawatir karena hujan abu vulkanis kemarin, dan beberapa tamu mengabarkan tidak bisa datang. Terutama yang dari luar Jogja, tapi kami bersyukur banyak undangan yang menyempatkan hadir,” ujar Ninda.Meski diselimuti sisa-sisa hujan abu vulkanis pascaerupsi Gunung Kelud, namun prosesi acara tetap berlangsung sesuai dengan yang diharapkan dan penuh kebahagiaan. Pasangan pengantin memasuki area pernikahan dengan menggunakan kereta kencana, bak seorang raja dan ratu. Dekorasi oleh Gurat Ungu yang elegan, ditambah sound system dan lighting oleh Madflash turut serta membuat momen pernikahan Defri dan Ninda menjadi indah dan berkesan. “Diawal pernikahan sudah dikasih kado hujan abu, mudah-mudahan pertanda rezeki, pernikahan kami langgeng,” harap Ninda. (dya/ila)