JOGJA – Status istimewa yang disandang Jogjakarta mesti dimaknai secara luas. Keistimewaan yang didasarkan UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Jogjakarta tersebut jangan hanya diartikan tentang penetapan gubernur dan wakil gubernur atau pemanfaatan dana keistimewaan (danais).Hal itu dilontarkan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Jogja Achmad Charris Zubair dalam lokakarya bertajuk Peran Pendidikan Kebudayaan dalam Meneguhkan Keistimewaan Jogjakarta di Puro Pakualaman Jogja (11/1). Kegiatan ini diikuti para guru mata pelajaran kesenian di Kota Jogja.Charris mengajak para guru mengolah lebih lanjut potensi kebudayaan yang dimiliki oleh Jogjakarta melalui metode pendidikan. Potensi dalam hal cagar budaya dan kesenian juga perlu dikukuhkan sekaligus dijunjung sebagai jati diri dari keistimewaan. “Kebudayaan itu adalah pendidikan. Saling terkait di antara keduanya. Keistimewaan pun akan benar-benar menjadi istimewa saat warga Jogja benar-benar memahami potensi budaya yang dimiliki,” kata Charris.Lokakarya ini menghadirkan beberapa pembicara. Selain Charris, ada Dr Rina Ratih MHum, Revianto B. Santosa, dan Ir Tien Suhartini. Rina memberikan materi seputar potensi dan pentingnya dunia kesusastraan dalam dunia pendidikan. evianto menyampaikan materi terkait cagar budaya. Sedangkan Tien memberikan materi mengenai potensi kebudayaan melalui kesenian batik.Materi-materi tersebut diberikan sebagai upaya menguatkan pengetahuan para guru kesenian di sekolah dasar. Diharapkan, para guru dapat melakukan proses transfer ilmu pengetahuan kepada siswa. “Membuka khasanah pengetahuan para guru agar bisa benar-benar menjadi sosok yang digugu lan ditiru oleh para siswanya. Proses transfer pengetahuan tetap menganut sistem pendidikan yang dianut oleh masing-masing sekolah dasar,” kata Charris.Lokakarya ini ini sekaligus merupakan ajang pendidikan karakter. Selain pendidikan regular yang diajarkan, kebudayaan merupakan unsur terpenting dalam proses pendidikan.Selain menjadi manusia berbudaya, Charris berharap kegiatan ini juga membuat para guru mengajar tidak hanya sisi koginitif tapi juga afektif. “Sehingga kesadaran berbudaya yang menyokong keistimewaan tidak hanya menjadi teoritis saja,” jelasnya. (dwi/amd)