Lenticular di Atas Langit Merapi

JOGJA – Penampangan awan berbentuk spiral di atas langit Merapi Rabu (22/3) pagi cukup menjadi perhatian publik. Mengingat dalam beberapa hari terakhir hujan deras disertai angin kencang melanda sebagian wilayah DIJ. Koordinator Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIJ Djoko Budiono menjelaskan, munculnya awan tersebut merupakan gejala lumrah di atas puncak gunung. ”Itu awan Lenticular. Memang biasa terbentuk pagi hari karena adanya pendinginan temperatur di atas gunung, yang mengakibatkan terjadinya kondensasi,” ucap Djoko. Dikatakan, kondensasi atau perubahan uap air yang terkumpul di sekitar puncak gunung menjadi titik-titik airlah yang membentuk awan Lenticular.

”Itu bukan pertanda apa-apa. Normal,” lanjutnya. Sementara Forecaster BMKG DIJ Subandi menyatakan, awan pekat bisa terjadi dimana saja. Dari pantauannya, awan yang muncul di atas Gunung Merapi termasuk jenis awan menengah dengan ketinggian sekitar tiga ribu meter di atas permukaan laut. Subandi menduga, awan tersebut tergolong jenis cumulonimbus (CB), namun tidak jadi hujan. ”Dalam bahasa klimatologi hal itu disebut bentangan CB,” katanya. Secara teknis, lanjut Subandi, awan CB biasanya diikuti dengan hujan. Sisanya akan menyebar bergeser tertiup angin. Sisa awan CB tersebut bisa jadi masih pekat. ”Awan CB yang di bawah sudah hujan, yang di puncak membentang itulah,” jelas Subandi. (dwi/pra/yog/rg)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar