Warna-warni Seni di DIJ

JOGJA - Jogjakarta sebagai kota pendidikan, selalu menjadi jujukan para pelajar daerah. Identitas kedaerahan yang melekat justu mampu menguatkan keistimewaan Jogjakarta. Julukan Jogjakarta Indonesia Mini berangkat dari peran pelajar daerah mengisi warna-warni seni di DIJ.

Salah satu kelompok seni yang cukup mencolok adalah Behind The Scene Theatre (Betha). Kelompok seni yang didirikan para pelajar daerah ini anggotanya multisuku. Dalam setiap penampilannya selalu menunjukkan kebhinekaan.

”Anggota berasal dari berbagai daerah. Mulai dari Lombok, Kalimantan, Madura, Palu, Tulungagung, Sumatera hingga Jogjakarta sendiri,” kata salah seorang pendirinya Roci Marciano, kemarin.

Pria kelahiran Pasaman Timur, Sumatera Barat, 6 Maret 1986 ini mengungkapkan, Betha memiliki semangat tinggi dalam seni. Berdiri tahun 2007, Betha selalu mengemas pementasan teater dengan cara yang brilian. Termasuk memadukan beragam kebudayaan Indonesia.

Seperti belum lama ini mereka menggarap naskah Sri Murtono yang berjudul Genderang Barata Yudha. Kolaborasi multisuku tidak hanya dari pemain. Garapannya juga terjadi kolaborasi, baik dari sisi kostum, gending hingga aksen pelafalan naskah.

”Kami selalu menanamkan konsep bumi dipijak di situ langit dijunjung. Esensial Jogjakarta tetap ada, tapi kami kolaborasikan dengan kultur masing-masing pemain,” ujarnya.
Alumnus Jurusan Teater ISI Jogjakarta ini mengungkapkan, ada pegangan khusus dalam membawa kultur masing-masing. Para penggawanya tidak mengemas dalam kultur daerah murni. Namun dikemas sebagai sisipan yang kesannya lebih universal.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar